Kenapa kita butuh ujian ? Kenapa kita terlalu ber-Tuhan pada buku-buku teori buatan manusia ? Salahkan Textbook. Textbook is the bible for the still-wanting-to-learn-such-cliche-theory kind of human mind ! But enough already !
Teori-teori menjadikan kita manusia-manusia pengutip yang tidak orisinil dan takut untuk berkembang. Hal itu terbukti bahwa kata "ujian" itu sendiri telah membuat manusia mana pun juga jadi merasa terintimidasi. Ada suatu mekanisme pertahanan diri yang berteriak bahwa "Saya tidak butuh diuji !" Hasrat atau kehendak manusia senantiasa adalah menjadi manusia yang capable, sedangkan ujian mengurung kita dalam suasana psikologis yang penuh teroro dan menumbuhsuburkan keyakinan patologis bahwa saya ini benar-benar tidak akan bisa. Artinya, kata ujian menjadi microchip yang sekonyong-konyong tertanam pada regio pusat kognisi manusia di otak.
Dalam ujian lisan, misalnya. Banyak manusia yang kaya (dalam khasanah materi ilmu pengetahuan, tentunya) berubah menjadi tolol setolol-tololnya. Fenomena yang tampak adalah saat seseorang duduk di "kursi panas" ujian, sekejap saja isi pikirannya tersedot keluar oleh suatu kekuatan yang entah datang darimana. Proses thought withdrawal ini yang mengosongkan dimensi intelektual kita saat ujian. Common sense menguap entah ke mana dan memori tereliminasi dari proses "recall" saat dewa-dewi penguji mulai mengeluarkan jurus-jurus pamungkas menciutkan kepercayaan diri.
Andaikan motivasi dan mindset manusia tentang konsep ujian dapat didekonstruksikan... Mungkinkah ?
Setelah beberapa kali saya mendengar kisah macam "Rags to Riches", otomatis saat saya menghadapi ujian sayapun terbayang-bayang.. Boleh juga bersusah-susah dahulu dengan diuji mental dan dibantai asalkan kerja keras itu membuahkan hasil yang sepadan seperti seorang CEO mungkin. Tetapi kadang-kadang barometer harapan saya cenderung rancu. Apakah kita ingin uang ? Apakah kita ingin rentetan gelar ? Ketenaran ? Gengsi ? Semua harapan tersebut menciut menuju satu format : MATERI.
Dengan wujud dan realisasi yang berbeda-beda tentunya. Lantas saya berusaha kembali eling dan buru-buru berpijak pada teori Abraham Maslow, bahwa pada puncak piramida kehidupan ini, bertenggerlah dimensi spiritual. Jadi, tidak usah pusing-pusing berpikir untuk menjadi begini-begitu, tetapi cobalah sempat mengamati Michael Jackson dan Elvis Presley. Dua pesohor dunia ! Karena saya pernah dengar teman menggumam, "Emang enak ujian.. Kalo jadi tahir kayak Elvis gue bela-belain deh susah-susah ujian.. Kalo tetep madesu ?" Ada apa dengan Elvis ? Simbol ketenaran, kekayaan & legenda ? Apakah Elvis seperti burung yang berkicau di pagi hari ? No, he is a suffer owl all night along ! Elvis is Mr. lonely ! Setiap pagi dia harus menenggak amphetamine untuk menginduksi rasa bahagia yang terlelap dalam jiwanya, dan setiap malam ia harus menggelontorkan hipnotika untuk mengistirahatkan jiwanya yang gelisah. Ada suatu keping puzzle yang hilang di sini. Sebuah gambaran utuh nikmat-nya kekayaan, menjadi tidak sempurna tanpa kehadiran satu keping puzzle untuk melengkapi, yaitu kepingan berisi kebahagiaan alamiah. Bukan substance-induced happiness ! Elvis bergelimang semuanya, tanpa melewati ruang ujian. Namun kehampaan spiritual membuat mereka terpuruk dalam pseudo happiness dan tidak sanggup untuk hidup.
Ternyata ujian yang sebenarnya bukan di ruangan ujian yang tertutup, privat dan mengijinkan kita menjadi pengutip sejati buku-buku referensi. Ruang ujian hanyalah sebuah ruang transisi untuk menghadapi ruang ujian yang sesungguhnya, realita hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar